Tiga Model Irigasi Untuk Budidaya Cabai

Irigasi mikro dapat membantu pekebun cabai dalam menghemat kebutuhan air untuk penyiraman saat kemarau.

Sebanyak 602 kepala keluarga (KK) atau 63,3% dari 951 KK di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, adalah pekebun cabai. Namun, mereka mengebunkan cabai hanya saat musim hujan.  Saat kemarau mereka berhenti menanam Capsicum annum lantaran jumlah air terbatas. Pasokan air hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Oleh sebab itu musim tanam cabai di desa itu menjadi serempak, begitu juga saat panen. Akibatnya, harga cabai menjadi anjlok saat musim panen karena pasokan cabai melimpah.

Untuk mengatasi hal itu, pada area Gelar Teknologi di ajang Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Kementerian Pertanian memamerkan teknologi irigasi otomatis untuk pengairan cabai. Teknologi itu menggunakan pompa yang menyedot air dari parit yang dibendung, lalu mengalirkannya ke tanaman. Pompa beroperasi secara otomatis karena diatur alat pengatur waktu, yakni setiap pukul 7.00 dan 17.00. Menurut konsultan budidaya cabai di Kota Depok, Jawa Barat, Munir Haryanto, teknologi itu dapat menjadi solusi untuk kebun yang pasokan airnya terbatas. Teknologi itu juga lebih praktis sehingga dapat meringankan kerja pekebun untuk penyiraman.

Untuk mengalirkan air ke tanaman, pada pameran itu Kementerian Pertanian merancang 3 model irigasi, yaitu:

  1. Model regulating stick

Pada model regulating stick, air mengalir dari melalui pipa lateral berbahan polietilen (PE) berdiameter 20 mm yang membentang di permukaan mulsa. Pada satu bedengan terdapat dua jalur pipa lateral yang letaknya di dekat tanaman. Pada pipa lateral itu terdapat lubang yang dipasangi pipa PE berdiameter lebih kecil, yakni 8 mm. Di ujung pipa dipasang regulating stick yang ditancapkan di sekitar area perakaran. Pekebun dapat mengatur debit air pada regulating stick. “Debit air disesuaikan dengan kebutuhan minimal tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh normal,” kata Munir.

DSC_8425 teknik fertigasi regulating stick pada lahan cabai (1)
Irigasi model regulating stick

2. Irigasi tetes (streamline).

Ada pun model irigasi tetes streamline sebetulnya mirip dengan model regulating stick. Perbedaannya pada irigasi tetes tidak menambahkan pipa berukuran kecil dari pipa lateral ke tanaman. Pada pipa lateral terdapat lubang dan langsung dipasang emitter atau penetes. Oleh sebab itu posisi pipa lateral lebih dekat ke tanaman agar emitter meneteskan air langsung ke area perakaran tanaman.

DSC_8799 teknik irigasi tetes pada tanaman cabai (5)
Model irigasi tetes.

3. Spray jet

Pada model spray jet pipa lateral hanya terdiri atas satu jalur yang letaknya memanjang di bagian tengah guludan dan berada di bawah mulsa plastik. Pada model ini membutuhkan tekanan lebih tinggi agar dapat air memancar dari lubang di bagian sisi kanan dan kiri pipa lateral ke area perakaran tanaman.

DSC_8420 teknik irigasi spray jet atau single pice jet untuk lahan cabai (2)
Irigasi model spray jet.

Sayangnya teknologi irigasi otomatis menggunakan regulating stick dan irigasi tetes membutuhkan biaya investasi tinggi. Menurut Rully Asrul Kemal Dardari, pekebun cabai di Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk 1 ha lahan perlu sekitar 7.000 m selang PE. Bila harga selang PE Rp20.000/m, maka total biaya selang mencapai Rp140-juta. Rully memilih selang berharga mahal agar kualitasnya baik sehingga awet hingga 5 tahun. Biaya itu belum termasuk biaya pembelian pompa atau pipa tambahan lain. “Pemanfaatan irigasi mikro efektif dan efisien bila diusahakan dalam jangka panjang,” tutur Rully.

Sistem irigasi spray jet lebih hemat karena selang yang digunakan hanya 1 jalur per guludan atau via-flo. Biaya pembelian pipa PE sekitar Rp9-juta—Rp10-juta per hektar, belum termasuk biaya pembelian pompa dan perlengkapan lain. Untuk menghemat biaya investasi, Pertiwi merancang instalasi jaringan pipa air menggunakan pipa PVC (polivinilchlorida) pada tiap bedengan tanaman. Ia menggunakan pipa berdiameter 3/4 inci sebagai pipa utama dan pipa 1/2 inci sebagai pipa tetes. Pipa utama berfungsi sebagai pembagi air ke setiap pipa tetes. Pipa tetes diberi selang akuarium yang ujungnya bermanik untuk meneteskan air  ke setiap tanaman dengan jarak sesuai jarak antartanaman.

Menurut Pertiwi, biaya instalasi hasil rancangannya itu rata-rata Rp920 per tanaman jika cabai ditanam dengan jarak 50 cm x 70 cm. Jika produktivitas rata-rata 500 g per tanaman dan harga jual cabai Rp15.000 per kg, maka biaya investasi untuk irigasi hanya 12,2% dari harga jual. Biaya investasi akan jauh lebih kecil bila instalasi irigasi itu berumur panjang, yakni minimal 3 tahun.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s